Popular Posts

Kategori

Amrin Tukang Hamili Pacar

Posted by Info Hot On Rabu, 14 Desember 2011 0 komentar
Amrin Tukang Hamili Pacar
-  Agaknya yang bernama Amrin itu selalu berkonotasi negative. Bila Amrin tahun 1960-an kerjanya membolos, Amrin tahun 2011 dari Palembang ini malah suka menghamili anak orang, tapi tak mau tanggung jawab. Muharni, 31(bukan nama sebenarnya), misalnya, dia tewas dianiaya Amrin, 36 (bukan nama sebenarnya), gara-gara menuntut dinikahi setelah hamil 7 bulan.
Tahun 1960-an, lagu “Amrin membolos” karya Pak Kasur populer sekali. Simak sebagian liriknya: Aku punya teman Amrin namanya, anaknya periang suka tertawa, Pernah ia lupa  masuk sekolah, berkeliling kota tidak mengenal lelah. Amrin membolos, kata Bu Guru, jangan membolos, menyusahkan ibu… Nah, saking populernya lagu itu, sampai-sampai anggota DPR sekarang juga ketularan suka membolos niru si Amrin.
Ironisnya, Amrin dari Palembang ini, meski tak mengalami jaman populernya lagu itu, ketularan sisi negatifnya nama Amrin. Bedanya, ba Amrin dulu suka membolos, Amrin dari Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu, justru suka selingkuh! Bagaimana tidak? Istri dan anak sudah punya, masih menelateni janda muda yang baru dikenalnya. Padahal si Muharni ini, bukan cuma dikenal, tapi juga “dikenil” kehormatannya sekaligus.
Ketika orang sedang kesengsem, memang suka lupa akan resiko daripada perbuatannya. Tahu bahwa janda Muharni merupakan wanita usia produktif, dipacarinya hingga di luar batas. Entah berapa kali Amrin – Muharni berbuat bak layaknya suami istri, tahu-tahu perut sang kekasih melendung. Padahal di dunia ini tak ada “makan siang” yang gratis.
Amrin lalu dimintai tanggungjawab oleh Muharni, yakni menikah di depan penghulu. Katanya, dijadikan bini kedua juga nggak soal, yang penting kelak bayinya lahir dengan ayah yang jelas. Tapi bagi Amrin yang berekonomi pas-pasan, mana mungkin poligami niru sebagian politisi Senayan. Masalahnya Amrin tahu persis bahwa orang poligami tak sekedar butuh kekuatan onderdil, tapi juga materil.
Harapan Muharni untuk jadi istri yang sah, gagalah sudah. Sebab Amrin menolak dengan alasan tak mungkin menelantarkan anak istrinya. Tapi sijanda juga tak mau jadi wanita tenggur (meteng nganggur) alias hamil tanpa suami. Makanya setiap ketemu Amrin selalu menagih dan mendesak agar segera didaftarkan ke KUA. “Kamu jangan macam politisi, kalau sudah jadi lupa sama rakyatnya,” begitu kira-kira protes Muharni.
Amrin joke menjadi buas, perempuan yang sedang hamil tersebut dianiaya hingga babak belur. Dalam kondisi klenger Muharni dibawa ke RS terdekat. Ternyata di sini biayanya sangat mahal, sehingga kemudian kekasihnya dimasukkan ke RSUD BARI. Itupun Amrin tak punya uang, sehingga hanya memberikan uang muka Rp 150.000,- ditambah HP sebagai jaminan. Habis menyerahkan Muharni, Amrin joke kabur.
Yang menyedihkan, begitu lelaki pecundang itu pergi, Muharni meninggal. Melihat luka-luka biru lebam di sebagian tubuh korban, polisi joke dilapori. Hari berikutnya setelah pemakaman, Amrin berhasil ditangkap. Tapi dia masih juga berkelit bahwa kalau dirinya bukan pembunuh. “Kalau saya pembunuhnya, buat apa repot-repot saya bawa ke rumahsakit segala?” begitu dia menangkis.
Untuk berkelit boleh-boleh saja, tapi Amrin tetap nggak boleh pulang. (JPNN/Gunarso TS)

0 komentar:

Posting Komentar